Candi Sambisari, Yogyakarta

By yahya fahmi - May 08, 2018



Berwisata ke kawasan candi sambil hunting? Kenapa tidak. Berkunjung ke kota Yogyakarta tidak lengkap kalau tidak mengunjungi tempat – tempat bersejarah karena kota yogya terkenal salah satunya karena situs peninggalan termasuk candi. Candi yang akan saya informasikan adalah Candi Sambisari, Ya candi ini merupakan candi yang unik karena keberadaaanya di kira-kira 6,5 meter lebih rendah dari permukaan tanah yang berbeda dengan peninggalan candi-candi lain pada umunya. Menurut penjaga candi ini dibangun sekitar abad ke-9 pada masa pemerintahan Raja Rakai Garung, candi hindu ini sempat terkubur material vulkanik Merapi. Dan selanjutnya pada tahun 1996 seorang petani Dusun Sambisari tanpa sengaja menemukan candi yang telah terpendam berabad-abad ini. Setelah dilakukan proses eskavasi, Candi Sambisari pun bisa kembali menampilkan sosoknya yang indah dan megah.  Candi Sambisari terdiri dari kompleks candi induk dan 3 candi pewara atau candi pendamping dengan dikelilingi pagar batu 2 lapis. Untuk memasuki area candi terdapat 4 pintu masuk. Sepintas lihat Candi Sambisari menyerupai kastil batu yang terletak di tengah taman. Rumput yang tumbuh teratur di pelataran candi laksana permadani hijau yang indah. Mau tau penampakannya seperti apa? mungkin video dibawah ini bisa membantu kalian melihatnya 👇🏻👇🏻👇🏻


Baca Juga 👉🏻👉🏻 Berkunjung Ke Pantai Ngudel, Salah Satu Pantai Selatan Malang
Candi Sambisari memang belum cukup terkenal sebagaimana candi- candi lain yang berada di Yogyakarta, saya pun tidak akan mengetahuinya jika teman tidak mengajak berkunjung kesini. Maka candi ini tempatnya cukup tenang, oiyaa di candi ini beberapa kali dijadikan tempat untuk prewedding loh guys. Karena memang tempatnya itu bersih, rapi dan tiket masuknya pun sangat murah sekali. Untuk masuk ke Candi Sambisari kalian cukup mengeluarkan Rp. 3000 untuk tiket masuk dan untu biaya parkir kendaraan Rp 2000 untuk roda 2 dan Rp. 5000 untuk roda 4. Lokasi Candi Sambisari terletak di Dusun Sambisari, Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Sleman, DIY. Yang berjarak kira-kira 4 km dari candi prambanan. Keindahan Candi Sambisari bisa kalian lihat dari atas guys yang dikelilingi taman yang bertuliskan Candi Sambisari. Karena cuaca di siang hari sangat panas saya sarankan untuk membawa kaca mata untuk melindungi mata kalian karena terik matahari begitu menyengat dan biar agak keren lah :D. Dan untuk memudahkan kalian menemukan lokasinya silahkan klik maps di bawah ini 👇🏻👇🏻👇🏻


Ketika menaiki tangga pintu masuk ke dalam candi induk kalian akan melihat hiasan berupa makara (hewan ajaib dalam mitologi Hindu) yang mulutnya sedang menggangga yang didalamnya terdapat seekor singa. Makara pada candi Ssambisari merupakan evolusi dari bentuk makara di India yang merupakan perpaduan antara gajah dengan buaya yang ekornya membengkok atau dengan seekor ikan. Dan setelah melewati anak tangga pintu terakhir masuk candi induk, kalian akan menjumpai selasar selebar 1 meter dan disekelilingnya terdapat 3 relung yang masing-masing relung terdapat arca. Selanjutnya di sisi Utara, terdapat arca Dewi Durga ( istri Dewa Siwa ) dengan 8 tangannya yang semuanya memegang senjata. Sementara itu disisi Timur terdapat sebuah arca Ganesha (anak Dewi Durga). Dan yang te rakhir disisi Selatan terdapat arca Agastya dengan aksamala (tasbih) yang dikalungan di lehernya.

Baca Juga 👉🏻👉🏻 Pandawa Beach, Bali 
Candi merupakan peninggalan peradaban nenek moyang yang sangat berharga. Keberadaannya harus selalu dijaga, baik oleh pihak pengelola dan wisatawan yang berkunjung ke candi. Karena sudah berusia ratusan tahun maka batu candi sangat rentan jika sampai terkena bahan kimia. Pembersihan batu candi pun tidak bisa menggunakan bahan pembersih kimia seperti sabun. Oleh karena itu, kegiatan vandalisme seperti mencorat-coret candi jelas sangat merugikan. Selain merusak pemandangan, corat-coretan di candi dapat menghancurkan peninggalan kejayaan peradaban masa lalu yang penuh dengan nilai history.


Menjaga kelestarian candi-candi yang berada di Indonesia memang menjadi tugas dan tanggung jawab pemerintah. Namun, sebagai warga negara yang baik, kita juga bisa turut andil dalam usaha pemeliharaan candi-candi tersebut dengan tindakan nyata saat kita mengunjunginya misalnya. Sebagian kerusakan beberapa candi di Indonesia memang disebabkan oleh beberapa faktor seperti iklim, lumut, bencana alam dan faktor manusia. Indonesia yang merupakan negara tropis yang hanya memiliki musim hujan dan musim kemarau. Guyuran hujan yang berkesinambungan akan berakibat mengikisnya permukaan batuan candi, dan menimbulkan kelembapan sehingga memicu tumbuhnya lumut yang jika dibiarkan akan merusak batuan candi. Factor bencana alam seperti gunung meletus, atau gempa yang sering terjadi di Indonesia juga bisa mengancam kelestarian candi-candi di Negara kita. Tentu kita masih ingat beberapa tahun lalu saat DIY dan Jawa Tengah terjadi gempa atau gunung meletus (merapi). Goncangan gempa bumi memang menimbulkan beberapa kerusakan pada candi-candi di DIY dan Jawa Tengah sehingga pemerintah menutup sementara Candi Prambanan dan Borobudur untuk dilakukan beberapa perbaikan. Demikian juga saat gunung Merapi meletus. Borobudur yang demikian megah nyaris tertutup debu vulkanik yang bisa merusak candi. Pemerintah juga sempat menutup candi kebanggaan kita ini untuk sementara sampai proses pembersihan selesai.

Dengan adanya media sosial maka berwisata saat ini tidak bisa dipisahkan dari aktivitas berfoto. Terlebih ketika mengunjungi candi, keunikan arsitekturnya jelas merupakan latar belakang berfoto yang bagus. Akan terapi berfoto di candi  tidak bisa dilakukan dengan sesuka hati pengunjung. Pose berlebihan seperti melompat beramai-ramai atau memanjat stupa haruslah dihindari karena hal itu bisa merusak candi.


Sebagai pengunjung yang baik, marilah kita mematuhi peraturan yang berlaku dangan sopan.  Beberapa candi memiliki aturan yang berbeda, terkadang apa yang diperbolehkan di satu candi belum tentu sama dengan candi-candi lainnya. Peraturan itu biasanya menyesuaikan dengan situasi dan kondisi candi. Salah satu contohnya adalah berhubungan dengan daya tahan candi. Mungkin pengunjung boleh masuk ke candi A karena bangunannya masih kokoh. Namun ketika berkunjung ke candi B, pengunjung bisa saja dilarang masuk bangunan candi karena kondisinya rapuh dan rentan.

Jangan lupa untuk mengunjungi juga tempat wisata di Yogya lain dibawah ini ya guys: 


  • Share:

You Might Also Like

0 comments